Hukum Membatalkan Puasa Sunnah



Jakarta

Sesuai dengan namanya, puasa sunnah berhukum sunnah untuk dikerjakan. Tidak seperti puasa Ramadan yang memiliki hukum wajib dan perlu mengqadhanya bila ditinggalkan.

Lantas, apakah dengan demikian membatalkan puasa sunnah merupakan suatu kebolehan?

Berkenaan dengan hal ini, pendapat para fuqaha terbagi ke dalam dua kelompok. Kelompok yang melarangnya dianut oleh Mahzab Hanafi dan Maliki, sementara Mahzab Syafi’i dan Hambali cenderung membolehkan.

1. Mahzab Hanafi dan Maliki

Prof Wahbah Az Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adilatuhu Jilid 3 menyebutkan, hukum membatalkan puasa sunnah adalah haram karena ada anjuran untuk menyelesaikan amalan sunnah yang dilakukan dalam pendapat ini. Termasuk puasa sunnah yang sudah dimulai, menurut Mahzab Hanafi dan Maliki, menjadi hak milik Allah SWT dan wajib dijaga dari pembatalan.

Untuk itu, bagi muslim yang membatalkan puasa sunnah tetap dikenakan kewajiban untuk mengqadha atau mengganti puasa. Hukum menyelesaikan puasa sunnah dianggap wajib sebagaimana disandarkan dari surah Muhammad ayat 33,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَلَا تُبْطِلُوْٓا اَعْمَالَكُمْ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta jangan batalkan amal-amalmu!”

Ditambah lagi, Ibnu Umar pernah berkata bahwa orang yang membatalkan puasa sunnah di luar kondisi darurat disebut sebagai orang yang bermain-main dalam agama. Atas dasar ini pula, pendapat Mahzab Maliki dan Hanafi dalam pembatalan puasa sunnah kerap dimiripkan dengan hukum puasa nadzar.

2. Mahzab Syafi’i dan Hambali

Menurut kitab Mughnil Muhtaaj, Kasysyaaful Qinaa, Syahrul Mahallii ‘alaa Jam’il Jawaami, dan Ghaayatul Wushuul lil Anshari, hukum membatalkan puasa sunnah dalam Mahzab Syafi’i dan Hambali adalah makruh.

Tidak ada kewajiban menyelesaikan untuk seluruh amalan sunnah di luar haji dan umrah yang dimulai seorang muslim. Artinya, pendapat ini membolehkan muslim membatalkan puasa sunnah dan tidak dikenakan kewajiban mengqadhanya.

Meski demikian, menyelesaikan amalan sunnah tetap menjadi perkara yang diutamakan menurut mahzab ini. “Sebab hal itu terhitung sebagai penyempurnaan ibadah yang merupakan perkara yang diperintahkan,” tulis keterangan yang diterjemahkan oleh
Prof Wahbah Az Zuhaili.

Lain halnya bila membatalkan puasa karena ada uzur tertentu, seperti menemani tamu untuk makan karena sang tamu merasa segan bila tuan rumah tidak turut makan dan begitu pula sebaliknya. Hal ini hukumnya tidak makruh, sebaliknya bahkan dianjurkan dalam pembatalannya.

Landasannya didasarkan dari sabda Rasulullah SAW dalam haditsnya. Rasulullah SAW membenarkan tindakan Abu Darda sebagai tuan rumah yang membatalkan puasa sunnah untuk tamunya, Salman.

Dari Abu Juhaifah, dia berkata, Rasulullah telah mempersaudarakan Salman dengan Abu Darda.
Pada suatu ketika, Salman mengunjungi Abu Darda.

Kemudian Abu Darda’ datang dan menyajikan makanan kepada Salman. Abu Darda berkata, “Makanlah. Aku sekarang sedang puasa.”

Salman berkata, “Aku tidak ingin makan sebelum engkau makan.” Akhirnya, Abu Darda pun makan.

Pada waktu malam hari, Abu Darda bangun untuk menunaikan ibadah. Salman yang memperhatikannya berkata, “Tidurlah.” Abu Darda pun tidur.

Begitu dia hendak bangun lagi, Salman menegurnya, “Tidurlah.”

Tatkala lewat tengah malam, Salman berkata, “Bangunlah sekarang.” Keduanya sama-sama menunaikan shalat sunnah tengah malam.

Setelah itu, Salman berkata kepada Abu Darda, “Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak yang harus engkau penuhi. Engkau sendiri mempunyai hak yang harus engkau penuhi. Begitu pula keluargamu, mereka mempunyai hak yang harus engkau penuhi. Maka, berikanlah setiap hak kepada yang berhak menerimanya.”

Abu Darda lalu menjumpai Rasulullah dan menyampaikan kejadian itu kepada beliau. Mendengar itu, Rasulullah bersabda, “Salman benar.” (HR Bukhari dan Tirmidzi).

Kondisi sebaliknya saat seorang tamu membatalkan puasa kala dijamu oleh tuan rumah juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Kisah ini diceritakan dari Abu Sa’id Al Khudri RA.

Ia mengatakan, dirinya membuat makanan untuk Rasulullah SAW bersama para sahabat. Kala makanan dihidangkan, salah seorang sahabat berkata bahwa dirinya berpuasa.

Mendengar itu, Rasulullah SAW bersabda,

إِنِّي صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” دَعَاكُمْ أَخُوكُمْ وَتَكَلَّفَ لَكُمْ ” ثُمَّ قَالَ لَهُ: ” أَفْطِرْ وَصُمْ مَكَانَهُ يَوْمًا إِنْ شِئْتَ

Artinya: “Saudaramu telah mengundangmu makan dan bersusah payah untuk menyiapkan untuk kalian,” Kemudian beliau bersabda, “Berbukalah! Dan puasalah untuk menggantikannya jika engkau mau,” (HR Baihaqi).

Sayyid Sabiq dalam Fikih Sunnah juga berpendapat, hukum membatalkan puasa sunnah adalah boleh dan disunnahkan untuk menggantinya pada hari lain untuk puasa yang ditinggalkannya.

Simak Video “Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah Jelang Idul Adha”
[Gambas:Video 20detik]

(rah/erd)

Scroll to Top