Bolehkah Puasa di Hari Lahir Begini Penjelasannya dalam Islam



Jakarta – Bolehkah melakukan puasa di hari lahir? Rasulullah SAW lahir di hari Senin, beliau mengistimewakan hari ini dengan menjalani puasa. Ini juga menjadi alasan puasa Senin Kamis bernilai ibadah.

Sebagai umat muslim, ternyata berpuasa di hari kelahiran sendiri tidak sepenuhnya diperbolehkan. Apalagi bagi yang lahir di hari Jumat dan Sabtu. Dalam dua hari ini, tidak diperkenankan puasa kecuali untuk puasa wajib.

Dikutip dari buku The Miracle Of Puasa Senin Kamis oleh Ubaidurrahim El-Hamdy dituliskan bahwa hari Senin adalah hari kelahiran manusia yang paling sempurna yang diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan Risalah-Nya.

Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah pada Senin, 9 Rabiul Awal permulaan tahun dari peristiwa Gajah. Hari kelahiran Rasulullah SAW bertepatan dengan tanggal 20 April tahun 571 Masehi. Ada pula beberapa ulama yang berpendapat tanggal lahir beliau tanggal 12 Rabiul Awal.

Rasulullah SAW Puasa di Hari Senin

Rasulullah SAW puasa di hari Senin, karena mengistimewakan hari kelahirannya. Namun bukan berarti kita juga bisa menirunya dengan berpuasa di hari kelahiran.

Rasulullah SAW menjalani puasa hari Senin sebagai cara untuk mengenang dan mengistimewakan hari lahirnya dengan beribadah kepada Allah SWT. Ibadah ini patut ditiru yakni puasa sunnah di hari Senin dan Kamis. Bukan puasa pada hari lahir masing-masing.

Tidak ada dalil yang menganjurkan untuk melakukan puasa di hari kelahiran. Bahkan, tentu ada yang lahir pada hari Jumat dan Sabtu. Di hari ini justru dilarang untuk berpuasa.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Janganlah kalian berpuasa pada hari Jumat kecuali berpuasa sebelumnya atau sesudahnya,” (HR Bukhari dan Muslim).

Ibnu Rusyd dalam Kitab Bidayatul Mujtahid mengatakan, selain hari Jumat ada beberapa hari yang tidak dianjurkan untuk berpuasa. Di antaranya hari tasyrik, hari syak (hari yang meragukan), hari Sabtu, separuh hari terakhir bulan Syaban, dan berpuasa setahun secara terus-menerus (dahr).

Puasa yang Hukumnya Makruh

Puasa yang hukumnya makruh ini seperti mengkhususkan hari Jumat, Sabtu, atau Minggu untuk berpuasa. Hari Jumat adalah hari raya umat muslim, hari Sabtu adalah hari raya umat Yahudi, sedangkan hari Minggu adalah hari raya bagi umat Nashrani.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda:

“Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya hari Jumat adalah hari raya. Maka janganlah kalian jadikan hari raya kalian sebagai hari puasa, kecuali jika kalian berpuasa sebelumnya atau sesudahnya.” (HR. Ahmad).

Demikian juga dengan hadits berikut:

“Janganlah engkau berpuasa pada hari Sabtu kecuali puasa yang diwajibkan bagi kalian.”(HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa’i dan dishahihkan Al-Bani)

Untuk mengucapkan syukur atau mengenang hari kelahiran, bisa dilakukan dengan berbagai cara selain berpuasa. Misalnya dengan memperbaiki ibadah, memperbanyak zikir ataupun sedekah. Semua dilakukan tentunya dengan mengharap berkah hanya kepada Allah SWT.

Simak Video “Astronaut Arab Klaim Tak Wajib Puasa Ramadhan Saat di Luar Angkasa”
[Gambas:Video 20detik]

(dvs/lus)



Scroll to Top