Umat Hindu di Balikpapan Ikuti Upacara Metatah Masal


BALIKPAPAN-Sebanyak 76 umat hindu di Balikpapan mengikuti upacara metatah masal atau potong gigi di Pura Giri Jaya Natha, Jalan RE Martadinata, Balikpapan Tengah, Sabtu (22/10) siang.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Balikpapan, I Nengah Kayun Widyatarna didampingi Ketua Panitia Metatah Masal I Made Budarmawan mengatakan, metatah merupakan ritual wajib bagi umat hindu. Terutama bagi mereka yang sudah mulai menginjak usia dewasa. Pada prosesi metatah, sebanyak enam gigi akan dipahat, yakni gigi taring dan gigi seri rahang atas.

“Untuk perempuan ditandai dengan datang bulan. Sementara untuk laki-laki ditandai dengan perubahan suara,” kata Nengah

Metatah kata Nengah, merupakan kewajiban orang tua untuk membersihkan putra dan putrinya dari sifat buruk, angkara murka dan kotoran seperti iri hati, dengki marah maupun mabuk.

Seteleh menjalani upacara potong gigi, mereka selanjutnya mencicipi enam rasa yakni manis, pahit, asin, sepat, pedas dan asam. Snam rasa tersebut punya makna masing-masing. Rasa pahit dan asam adalah simbol agar tabah menghadapi kehidupan yang keras. Rasa pedas sebagai simbol tentang kemarahan, senantiasa sabar apabila mengalami hal yang menimbulkan emosi kemarahan. Rasa sepat sebagai simbol agar taat pada peraturan atau norma-norma yang berlaku. Rasa asin menandakan kebijaksanaan sedangkan rasa manis sebagai penanda kehidupan yang bahagia.

“Harapanya tentu setelah upacara akan mendapatkan pencerahan. Sikapnya berubah menjadi baik,” kata Nengah.

Meski lebih banyak dilalui kaum remaja, Nengah menyebut banyak juga umat hindu yang “terlambat” mengikuti metatah. “Iya, mereka yang sudah tua dan belum melakukan metatah juga bisa ikut. Bahkan, ada yang sudah meninggal tapi belum metatah nanti akan dilakukan prosesi metatah,” jelas dia.

Proses metatah, lanjut Nengah, tak bisa dilakukan di sembarang waktu, melainkan hanya pada hari-hari suci. Seperti yang dilakukan Sabtu (22/10), siang, proses metatah dilakukan bertepatan dengan Hari Saraswati.

Mereka yang akan ikuti prosesi ini juga harus menggunakan pakaian khusus berwarna kuning dan putih. Warna putih, sebut Nengah melambangkan kesucian. (hul)

Scroll to Top