Rais NU Bali Sebut Suara Adzan Beri Manfaat pada Umat Hindu


Jakarta, NU Online
Di Bali, lantunan adzan yang keluar dari pengeras suara masjid atau mushala ternyata tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh umat Islam. Rais Syuriyah PWNU Bali KH Noor Hadi Al Hafidz menyebut bahwa umat Hindu di sana juga merasakan manfaat dari suara adzan tersebut.

“Di sini (Bali) itu suara adzan keras itu memberi manfaat kepada orang-orang di sekelilingnya, bukan hanya orang Islam saja,” jelas Kiai Noor pada tayangan video Youtube¬†NU Online: Suara Adzan Ternyata Bermanfaat bagi Umat Hindu Bali¬†yang tayang pada Senin (19/12/2022).

Dijelaskannya, umat Hindu di Bali punya beberapa aktivitas dan rutinitas yang waktunya nyaris hampir bersamaan dengan waktu shalat 5 waktu. Dengan adanya adzan dari pengeras suara masjid bisa mengingatkan umat Hindu untuk melakukan rutinitas tersebut.

“Jadi orang Hindu itu pada waktu Subuh ada suara tarhim, ngaji Al-Qur’an, adzan, itu mereka bangun karena suara itu, karena mereka mempersiapkan dirinya. Pada umumnya orang sini itu yang laki-laki kerja sebagai tukang, yang perempuan sebagai pembantu,” paparnya.

Ia melanjutkan, profesi tersebut menuntut penduduk setempat agar bangun lebih awal dan menyiapkan berbagai hal sebelum berangkat kerja seperti memasak untuk sarapan keluarga.

“Yang kedua untuk anaknya yang makan pagi, makan siang. Manfaatnya adzan itu benar-benar luar biasa,” ungkap pendiri dan Pengasuh Pesantren Rhaudlatul Huffadz Tabanan, Bali itu.

Diceritakan Kiai Noor Hadi, pada suatu hari pengeras suara di masjidnya mati, otomatis suara adzan yang dilantunkan tidak terdengar oleh masyarakat sekitar, akibat kejadian itu penduduk setempat bertanya-tanya.

“Pada waktu speakernya mati, dia mesti tanya ke saya: Pak Haji kok nggak ada ‘au-au’ (adzan), karena dia merasa nggak terbangun karena nggak ada ‘au-au’ itu. Tidak sama di daerah lain, di sini pada umumnya begitu,” ujar santri Mbah Arwani Kudus tersebut.

Selain itu, kiai asal Demak ini menjelaskan bahwa umat Hindu Bali juga punya ritual Puji Trisandya yang rutin dilaksanakan pada jam-jam tertentu.

“Mereka itu jam 6 ada Puji Trisandya, sembahyang bareng-bareng. Kemudian jam 12 siang dia juga ada Puji Trisandya, kita jam 12 sudah mulai adzan. Sore kita adzan, maghrib juga adzan. Nah dia jam 6 sore ada Puji Trisandya, sehingga mereka tidak terganggu dengan kegiatan masjid,” bebernya.

Lebih lanjut Kiai Noor Hadi menegaskan bahwa akhlakul karimah menjadi hal pokok dan utama yang membuat umat Hindu bisa menerima kehadiran umat Islam di Pulau Dewata.

“Jadi pada titiknya adalah akhlakul karimah, itu yang menjadikan mereka tertarik dengan Islam,” tegasnya.

Pewarta: Aiz Luthfi
Editor: Kendi Setiawan

Scroll to Top