7 Cerita Dongeng Islami tentang Puasa untuk Ajarkan Anak TK dan SD



Jakarta

Berpuasa di bulan Ramadan termasuk dalam Rukun Islam ketiga. Oleh karena itu, berpuasa merupakan suatu ibadah wajib yang harus dilakukan oleh seluruh umat Muslim.

Selain puasa wajib di bulan Ramadan, ada juga lho anjuran puasa-puasa sunnah lainnya. Seperti puasa Senin-Kamis, puasa 10 Muharram, dan lain sebagainya.  

Puasa merupakan ibadah yang istimewa hubungan antara manusia dengan Allah SWT. Tidak ada seorang pun yang tahu seseorang berpuasa atau tidak kecuali orang itu sendiri dan Allah SWT. Selain itu, dari segi medis juga ada banyak manfaat yang berpuasa bagi tubuh manusia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dilansir dari laman Kemenkes, manfaat berpuasa antara lain adalah mengontrol gula darah, mengurangi peradangan, meningkatkan kesehatan jantung, meningkatkan fungsi otak, membantu menurunkan berat badan, meningkatkan hormon pertumbuhan, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu penting mengajarkan Si Kecil berpuasa sedari dini. Bunda juga perlu menjelaskan esensi dan konsep serta makna berpuasa kepada Si Kecil, agar Si Kecil tidak mengartikan ibadah puasa hanya terbatas pada menahan lapar dan haus saja.

Nah, jika Bunda ingin mengenalkan konsep berpuasa kepada Si Kecil, mendongeng bisa menjadi pilihan yang menarik. Dengan dongeng dari kisah Rasul dan sahabat-sahabatnya, Bunda dapat mengajarkan Si Kecil mengenai makna berpuasa dengan cara yang menyenangkan. 

Cerita dongeng Islami tentang puasa untuk ajarkan anak TK dan SD

Berikut adalah pilihan-pilihan dongeng tentang puasa yang bisa Bunda ceritakan ulang kepada Si Kecil seperti dilansir berbagai sumber:

1. Turunnya Perintah Puasa

Berikut ini adalah kisah singkat mengenai turunnya perintah berpuasa dikutip dari buku 365 Kisah Islami Sejarah 25 Nabi, Para Sahabat, & Ulama Besar Dunia oleh Kak Thifa.

Perintah Puasa Ramadan

Perintah puasa sebenarnya sudah ada sejak zaman para nabi terdahulu. Namun, pada masa Nabi Muhammad, perintah puasa yang diberikan adalah puasa pada bulan Ramadan. Perintah puasa Ramadan diberikan oleh Allah SWT pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriyah, setelah pengubahan kiblat shalat.

Setelah turun perintah berpuasa Ramadan, Nabi Muhammad tidak serta-merta mewajibkan kepada seluruh umat Islam. Mereka boleh berpuasa, boleh juga tidak. Bagi yang tidak berpuasa, harus membayar fidyah. Namun, kemudian Nabi Muhammad mewajibkan ke seluruh umat Islam, kecuali orang yang berhalangan secara syar’i seperti orang sakit atau sedang bepergian jauh.

2. Agar Terbiasa Berpuasa

Berpuasa akan terasa mudah jika dibiasakan. Itulah pesan dari kisah sahabat nabi bernama Abdullah bin Malik yang dikutip dari buku Kisah-Kisah Teladan Terbaik Sepanjang Masa dari Nabi, Sahabat, dan Orang-orang Saleh oleh Aliyah Tsuraya. Berikut adalah kisahnya.

Membiasakan Diri Berpuasa

Abdullah bin Malik mendapatkan petunjuk dari Allah SWT untuk memeluk agama Islam sejak lama. Abdullah Bin Malik mengikuti terus perjuangan Nabi Muhammad Saw. dalam mengembangkan agama Islam sejak hijrahnya.

Ketika datang kewajiban untuk puasa, Abdullah bin Malik melaksanakannya dengan penuh kesungguhan sehingga menjadi suatu kebiasaannya.

“Apa yang membuatmu tidak berat dalam menjalankan ibadah puasa?” tanya teman Abdullah.

“Aku memang selalu membiasakan diri untuk berpuasa, walau bulan Ramadan belum tiba,” jawab Abdullah.

“Ooo, jadi selain puasa wajib, engkau juga melaksanakan puasa sunah,” kata temannya.

“Ya, karena selain puasa wajib, banyak juga puasa sunah yang bisa kita kerjakan. Misalnya puasa setiap hari Senin dan Kamis.”

“Wah kalau begitu, aku juga akan berusaha melakukan puasa sunah.”

3. Anjuran Berpuasa 10 Muharram

Berpuasa pada bulan Ramadan memang wajib hukumnya. Namun selain itu ada banyak waktu-waktu sunnah yang mana kita dianjurkan pula berpuasa pada hari tersebut, 10 Muharram adalah salah satunya.

Simak kisahnya yang dikutip dari buku Kisah-Kisah Teladan Terbaik Sepanjang Masa dari Nabi, Sahabat, dan Orang-orang Saleh oleh Aliyah Tsuraya berikut ini:

Berpuasa pada 10 Muharram

Saat rombongan Nabi Muhammad saw berhijrah dari Mekah ke Madinah, ada seorang sahabat Nabi yang melihat penduduk Madinah yang beragama Yahudi menjalankan puasa pada 10 Muharam.

“Mengapa hari ini kalian puasa?” tanya sahabat Nabi.

“Kami berpuasa untuk memperingati kemenangan Nabi Musa as waktu melawan Raja Fir’aun,” jawab umat Yahudi.

Peristiwa itu kemudian disampaikan pada Nabi Muhammad SAW. Nabi pun menyuruh umatnya berpuasa. Namun, dengan menambahkan puasa satu hari sebelum dan sesudah tanggal 10 Muharam, tujuannya agar berbeda dengan puasa yang dijalani umat Yahudi.

Dengan puasa ini, selain mendapat pahala yang besar, juga untuk menghormati perjuangan Nabi Musa AS saat menghadapi Raja Fir’aun yang mengaku dirinya sebagai Tuhan.

4. Kisah Sahabat Nabi Said bin Al-Harits

Berikut ini adalah kisah sahabat Nabi Said bin Al-Harits yang berbuka puasa bersama bidadari surga karena berperang di jalan Allah dan beribadah dengan baik, sehingga gugurnya ia di medan perang disebut mati syahid. Kisah ini dikutip dari buku 99 Kisah Hebat Penuh Hikmah & Teladan oleh Nurul Ihsan.

Berbuka Puasa di Surga Bersama Bidadari

Suatu malam, Said bermimpi bertemu dengan bidadari di surga. “Aku istrimu yang Engkau harus kembali ke dunia dan baru bisa tinggal di sini tiga hari lagi. Pada hari ketiga itu engkau akan berbuka puasa di tempat kami,” kata bidadari dengan penuh kelembutan.

Beberapa hari kemudian, Said bin Al-Harits pergi ke medan pertempuran di negeri Romawi Timur. Selama masa berperang itu, Said berpuasa di siang hari dan malamnya ia menghabiskan waktu dengan shalat, zikir, membaca al-Qur’an, dan berdoa.

Selama tiga hari tiga malam Said bertempur tanpa kenal lelah. Akhirnya pada hari ketiga menjelang magrib, Said gugur sebagai syuhada.

Ilustrasi keluarga/Foto: Getty Images/Rifka Hayati

5. Dosa Bergunjing yang Membatalkan Puasa

Puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tapi juga menjaga seluruh diri kita agar tidak melakukan segala hal yang tidak disukai diri. Salah satunya adalah menjaga lisan dari dosa bergunjing.

Berikut adalah kisah tentang seorang yang bergunjing saat menjalankan ibadah puasa dikutip dari buku Percikan Kisah Nabi Muhammad SAW oleh Penerbit Serambi.

Bergunjing

Saat bulan Ramadan tiba, kaum muslimin berpuasa. Ada dua orang perempuan di Madinah yang sedang menjalankan ibadah puasa. Keduanya tampak kepayahan. Tubuh mereka gemetar, wajahnya pucat pasi, keringatnya mengalir terus-menerus. Mereka sepertinya hampir pingsan.

Seorang sahabat menghadap Rasulullah dan melaporkan keadaan dua orang perempuan itu.

“Keadaan mereka benar-benar mengkhawatirkan,” kata sahabat yang menghadap Rasulullah. “Mohon izinkan mereka berbuka karena tampaknya mereka tidak kuat lagi melanjutkan puasa mereka,” lanjutnya.

Rasulullah mengangguk, “Tolong bawa mereka kemari,” katanya kemudian.

Tanpa berbicara lagi, orang tersebut membawa dua orang perempuan itu menghadap Rasulullah. Rasulullah mengambil sebuah bejana (wadah dari tanah) dan meletakkannya di depan kedua perempuan tersebut.

“Sekarang, muntahkanlah isi perut kalian,” pinta Rasulullah. Dua orang perempuan itu kemudian memuntahkan semua isi perut mereka. Keluarlah dari mulut mereka darah dan kotoran manusia memenuhi wadah itu. Keadaan mereka membaik setelah memuntahkan isi perut mereka. 

“Kedua perempuan ini berpuasa dengan apa yang dihalalkan oleh Allah. Akan tetapi, keduanya berbuka dengan apa yang diharamkan Allah,” kata Rasulullah. Para sahabat yang mengantar perempuan-perempuan itu tidak memahami maksud kalimat Rasulullah.

“Apa maksud Engkau, ya Rasulullah?” tanya salah seorang sahabat. Ucapan Rasulullah itu memang berupa kiasan, Rasulullah perlu memberi penjelasan agar sahabat itu memahami maksudnya.

“Mereka berpuasa, tetapi mereka tak berhenti menggunjingkan orang lain,” kata Rasulullah.

Kedua perempuan itu mengakui perbuatan mereka. Memang, mereka telah bergunjing, membicarakan keburukan atau aib orang lain. Perut mereka dipenuhi darah dan kotoran karena perbuatan yang dibenci Allah itu.

6. Kisah Aisyah dan Sepotong Roti

Aisyah adalah istri Rasulullah SAW. Sifatnya yang mulia patut kita teladani. Contohnya adalah seperti kisah berikut ini yang dikutip dari buku Kisah Inspiratif Untuk Anak Muslim oleh Ariany Syurfah.

Balasan Kebaikan

Pada suatu hari, Aisyah sedang berpuasa. la hanya memiliki dua buah roti untuk berbuka. Sore harinya, datang seorang pengemis. Aisyah lalu memanggil budaknya, “Berikan dia sepotong roti.” Budak itu lalu memberikan sepotong roti pada pengemis.

Tak lama kemudian, datang lagi seorang pengemis ke rumah Aisyah. Ia lalu kembali menyuruh budaknya untuk memberikan sepotong roti lainnya untuk pengemis. Namun, kali ini budaknya itu tidak mau memberikannya hingga Aisyah sendiri yang akhirnya memberikannya.

Budak itu lalu berkata pada Aisyah, “Sekarang Anda tidak memiliki sedikit pun makanan. Lalu bagaimana Anda akan berbuka?” Aisyah hanya tersenyum mendengar pertanyaan budaknya.

Menjelang berbuka puasa, tak ada sedikit pun makanan. Namun, Aisyah tetap tenang. Tak lama kemudian, terdengar suara orang mengetuk pintu.

Aisyah lalu meminta budaknya untuk membukakan pintu. Ternyata, yang datang adalah seorang utusan si fulan. Kedatangannya adalah untuk menyampaikan kambing bakar yang di atasnya terdapat roti untuk diberikan pada Aisyah dan keluarga.

Setelah utusan itu pulang, Aisyah berkata pada budaknya, “Lihatlah, roti yang yang mereka berikan lebih banyak dari roti yang kita sedekahkan. Padahal, sebelumnya mereka belum pernah memberikan hadiah kepadaku. Ini semua pasti karena Allah SWT.”

7. Indahnya Bertoleransi 

Puasa Ramadan memang wajib bagi umat muslim. Namun, bukan berarti umat lain tidak boleh ikut berpuasa. Hal ini karena puasa memiliki manfaat yang sangat banyak bagi tubuh.

Nah jika ingin mengajarkan Si Kecil bertoleransi, bacakan dongeng yang dikutip dari buku Seri Cerita Anak Milenial tentang Nilai-Nilai Karakter Bangsa Toleransi oleh Mulasih Tary berikut ini:

Buka Puasa Bersama

“Ayo Agatha, nanti kita terlambat ke acara Mama,” ucap Mama. “Agatha sudah siap Mama,” balas Agatha berlari menuju Mamanya.

Agatha dan Mama akan menghadiri undangan buka puasa bersama. Buka puasa teman-teman di kantor Mama. Meskipun mereka beragama katolik, tapi Mama sering ikut buka puasa bersama saat Bulan Ramadan. “Kenapa harus ikut buka puasa Mama. Itu kan untuk umat islam,” tanya Agatha.

“Ikut buka puasa bersama bisa mempererat persaudaraan Mama dan teman-teman Mama. Kita memang berbeda agama, tapi kita harus menghormati orang lain yang berbeda agama dengan kita. balas Mama Agatha. Agatha pun mengangguk pelan, la dan Mama langsung menuju ke kantor untuk buka puasa bersama.

“Makanannya enak. Manis, Agatha suka,” ucap Agatha.

“Besok mau ikut buka puasa bersama lagi?” tanya Tante Azizah. “Mau tante,” jawab Agatha malu. Mama tersenyum senang melihat Agatha senang. Apalagi Agatha suka dengan menu buka puasanya. Meskipun ia tak puasa. 

Itulah tujuh dongeng dan kisah yang bisa Bunda ceritakan kepada Si Kecil untuk menjelaskan makna dan esensi berpuasa dengan cara yang seru. Selamat mengajarkan Si Kecil berpuasa ya, Bunda. Semoga bermanfaat!

Bunda ingin membeli produk kesehatan dan kebutuhan untuk anak. Langsung aja yuk, Bun klik di sini.

(fir/fir)

Scroll to Top